Mata Minus pada Anak-Anak Belia ?

Di Era teknologi ini, Mata Minus mulai menjadi musuh terbesar generasi saat ini. Anda bisa melihat hampir semua orang memiliki smartphone saat ini. Setiap hari terus berinteraksi, terfokus total pada layar, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak. Jadi jangan heran jika penderita rabun dekat, terus meningkat dari tahun ke tahun.

Anak-Anak

Penderita rabun jauh bukan hanya pada remaja, atau orang dewasa namun kini mulai menyerang anak-anak SD bahkan anak TK. Jika sebelumnya kita melihat anak-anak SD mengunakan kacamata, penyebab utama biasanya adalah faktor genetika atau turunan dari orang tua, kini hal tersebut bukan lagi menjadi faktor utama anak-anak yang masih berusia belia mengunakan kacamata. Tablet, Smartphone, atau layar komputer kini menjadi aktor utamanya.

Kenapa bisa begitu ? lantas bagaimana peran orang tua didalamnya ?
Jika menarik lebih jauh akar masalah, anak-anak belia bisa memiliki akses terhadap perangkat elektronik tentu karena diberikan oleh orang tua mereka. Salah satu poin menarik adalah membuat anak-anak lebih tenang dan tertib. Jika jaman dulu anak rewel, tidak mau makan selalu menjadi masalah utama para orang tua.

Biasanya orang tua yang memiliki budget khusus akan lebih memilih mengunakan jasa seorang perawat, jadi dari poin ini beban anak rewel di lemparkan ke pundak perawat tersebut namun lain cerita jika perawat tersebut harus libur atau pulang kampung pada hari raya, masalah anak tentu berbalik kembali ke pundak sang orang tua, kini tablet dan smartphone dengan ratusan ribu game gratis menjadi senjata ampuh para orang tua untuk membuat anak mereka terus terdiam fokus pada satu posisi dengan mudah. Disaat bersamaan orang tua dapat lebih mudah melakukan aktivitas baik memberi makan atau melakukan aktifitas pribadinya.

Masalah di Masa Depan
Ketika solusi tersebut begitu ampuh dalam mengurangi beban orang tua terhadap masalah pada anak-anaknya. Perangkat elektronik itu justru berbalik menjadi bumerang yang merusak secara pelan-pelan mata sang anak. Keasikan bermain diperangkat elektronik membuat mereka menjadi kurang melakukan aktifitas normal anak-anak pada umumnya, sepert berlari, olahraga, berinteraksi, menangis, namun justru terfokus total begitu dekat pada layar perangkat elektronik.

Jadi jangan heran, jika 9 dar 10 anak-anak saat ini yang anda temukan diruang publik walau masih berusia belia antara 5-6 tahun, sudah mengunakan kacamata.

Saat ini mungkin tidak ada perhatian khusus untuk masalah ini, namun akan menjadi masalah besar di kemudian hari bukan untuk orang tua tapi masa depan sang anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *